Friday, October 28, 2011

EVAPOTRANSPIRASI

Dalam kondisi lapangan tidak mungkin dibedakan antara evaporasi dengan transpirasi, karena tanah tertutup oleh tumbuhan. Kedua proses tersebut saling berkaitan sehingga disebut Evapotranspirasi. Yang dimaksud evapotranspirasi adalah penguapan dari suatu daerah aliran sungai sebagai akibat pertumbuhan di dalamnya.

Jumlah kadar air yang hilang dari tanah akibat evapotranspirasi tergantung pada:

· Adanya persediaan air hujan yang cukup dan lain-lain.

· Faktor iklim seperti suhu, kelembaban, dan lain-lain.

Beberapa rumus yang bias dipakai untuk menetukan besarnya Evaporasi Potensial (ETo) adalah rumus Blaney-Criddle, Rumus Radiasi, Rumus Penman, dll. Rumus Penman mendapat rekomendasi dari Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Ketiga rumus tersebut diatas mempunyai prinsip umum yang sama, yaitu :

ETo = c x ETo*

Dimana :

Eto = Evaporasi Potensial (mm/hari)

c = factor koreksi

ETo* = evaporasi

Evaporasi Potensial (ETo) dipengaruhi oleh iklim dan bergantung pada letak lintang (Indonesia terletak di katulistiwa). PErbedaan ketiga rumus diatas adalah dalam penentuan angka koreksi (c) dan Evaporasi (ETo*).

1.1.1. Rumus Blaney-Criddle

Data terukur yang digunakan :

1. Letak Lintang

2. Suhu Udara

3. Angka koreksi (c)

Rumus :

Eto = c.ETo*

Eto* = P.(0,457.t + 8,13)

Dengan :

P = prosentase rata-rata jam siang malam, yang besarnya tergantung Letak Lintang

T = suhu udara (oC)

Prosedur perhitungan :

1. Mencari Letak Lintang daerah yang ditinjau

2. Sesuai dengan letak lintang mencari nilai P (menggunakan Tabel BC.1)

3. Mencari suhu rata-rata bulanan (t)

4. Berdasar nilai P (Tabel BC.1) dan data t

Eto* = P(0,457t+8,13)

5. Sesuai dengan bulan yang ditinjau mencari angka koreksi c (Tabel BC.2)

6. Menghitung ETo = c.ETo*

1.1.2. Rumus Radiasi

Data terukur yang diperlukan :

1. Letak Lintang

2. Suhu Udara

3. Kecerahan Matahari (n), jam/hari

4. Angka koreksi (c)

Rumus :

Eto = c.ETo*

Eto* = w.Rs

Dengan :

w = factor pengaruh suhu dan elevasi ketinggian daerah

Rs = radiasi gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hr)

Dimana :

Rs = (0,25+0,54n/N)Rg

Dengan :

n/N = kecerahan matahari (%)

Rg = radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfer

= angka angot (bergantung pada letak lintang)

Prosedur perhitungan :

1. Mencari Letak Lintang daerah yang ditinjau

2. Mencari suhu rata-rata bulanan (t)

3. Berdasar nilai t mencari nilai w (Tabel R.1)

4. Berdasar nilai LL mencari Rg (Tabel R.2)

5. Mencari Data kecerahan matahari (n/N)

6. Menghitung Rs

7. Mencari angka koreksi (c) Tabel R.3

8. Menghitung ETo

1.1.3. Rumus Penman

Data terukur yang diperlukan :

1. Letak Lintang

2. Suhu Udara

3. Angka koreksi (c)

4. Kelembaban Relatif bulanan rerata RH (%)

5. Kecerahan Matahari (n) , jam/hari

6. Kecepatan angin bulanan rata-rata (U), m/dt

Rumus :

Eto = c.ETo*

Eto* = w.(0,75Rs-Rn1)+(1-w)f(U)(eg-ed)

Dengan :

w = factor yang berhubungan dengan suhu dan elevasi daerah (Tabel PN.1)

Rs = radiasi gelombang pendek (mm/hr)

Rs = (0,25+0,54n/N) Rg

Rg = radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfir (angka angot) (Tabel R.2)

Rn = radiasi bersih gelombag panjang (mm/hr)

Rn1 = f(t).f(ed).f(n/N)

F(t) = fungsi suhu (PN.1)

F(ed) = funsi tekanan uap

= 0,34 – 0,44(ed)1/2

ed = ed*RH

F(n/N) = fungsi kecerahan matahari

= 0.1 + 0,9n/N

f(U) = fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2,00 m

f(U) = 0,27*(1+0,864U)

(eg-ed) = perbedaan tekanan uap jenuh dengan tekanan uap yang sebenarnya.

eg = ed RH

ed = tekanan uap sebenarnya

= f(t)

RH = kelembaban relative (%)

c = angka koreksi

Prosedur perhitungan :

1. Mencari suhu rata-rata bulanan (t)

2. Dari Tabel PN.1 berdasar t mencari e, g, w, f(t)

3. Cari Data RH

4. Mencari ed = ed*RH

5. Lihat Tabel PN.2 berdasar LL cari Ra

6. Cari data kecerahan matahari (n/N)

7. Cari Rs

8. Cari f(n/N)

9. Mencari data kecepatan angin (U)

10. Cari f(U)

11. CAri Rn.1

12. Mencari nilai c (Tabel PN.3)

13. Cari ETo* dan ETo

Analisis Hasil Perhitungan Evaporasi Potensial :

Dari hasil perhitungan evaporasi potensial dengan Metode Blaney-Criddle, Radiasi dan Penman dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil perhitungan evaporasi potensial dengan Metode Blaney-Criddle, Radiasi dan Penman didapatkan hasil yang berbeda.

2. Besarnya Evaporasi Potensial Metode Penman > Metode Radiasi > Metode Blaney-Criddle (periksa Tabel dan Grafik Perbandingan Hasil Perhitungan Evaporasi Potensial).

3. Hasil perhitungan Evaporasi Potensial Metode Penman dan Metode Radiasi jauh lebih besar daripada metode Blaney-Criddle karena karena pada Metode Penman dan Metode Radiasi melibatkan lebih banyak parameter, dimana ada asumsi data untuk beberapa parameter pada soal kurang sesuai/menyimpang dengan kondisi riil di lapangan.

Penyimpangan nilai dimaksud bisa dijelaskan sebagai berikut :

a. Harga rata-rata bulanan kecerahan matahari (n/N) di beberapa daerah di Indonesia berkisar antara 30 % - 80 %. Besaran (n/N) dipengaruhi oleh besar n yang merupakan jumlah jam nyata matahari bersinar dalam sehari dan nilai N yang merupakan jumlah jam potensial matahari bersinar dalam sehari. Asumsi data n yang diberikan pada soal terlalu besar, sehingga nilai (n/N) hasil perhitungan dengan Metode Penman dan Metode Radiasi juga sangat besar yaitu berkisar antara 90% s/d 96% (>>> dari rata-rata kecerahan matahari umumnya di Indonesia).

b. Data kecepatan angin dari delapan daerah di Indonesia menunjukkan kecepatan angin rata-rata bulanan yang berkisar 0,5 m/dt sampai 4,5 m/dt atau sekitar 2 km/jam sampai 15 km/jam. Namun dalam soal, asumsi kecepatan angin diberikan 6,5 m/det, sehingga jauh lebih besar dari kisaran kecepatan angin di Indonesia. Hal ini mengakibatkan hasil perhitungan evaporasi potensial Metode Penman yang melibatkan parameter ini paling besar daripada metode lainnya.

2 comments:

  1. boleh tau gak ini dar buku apa??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidrologi Praktis Dr.Ir. Lily Montarcih Limantara, M.Sc.

      Delete